PENDEKATAN TEMATIK DAN IMPLEMENTASI DALAM PEMBELAJARAN
PKN SD
Makalah
Disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah Pengembangan
Pembelajaran Pkn SD
Dosen: Dr. Dirgantara Wicaksono. M.Pd
Oleh :
Yolantri 2015820038
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadiran Allah SWT, karena berkat Rahmat dan
Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Pengembangan Pembelajaran Pkn SD. Banyak kesulitan dan hambatan yang penulis
hadapi dalam membuat tugas ini tetapi dengan semangat dan kegigihan penulis
mampu menyelesaikan tugas ini dengan baik, Penulis berharap semoga dengan
disusunnya makalah ini dapat memberikan pengetahuan bagi para pembaca.
Cirendeu, 03 Agustus 2017
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................... !
DAFTAR ISI..................................................................................................!!
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang...................................................................................1
B.
Rumusan Masalah........................................................................... ..2
C.
Maksud dan Tujuan.......................................................................... .2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendekatan Pembelajaran Tematik .................................3
B. Ciri-ciri Pembelajaran
Tematik.............................................................4
C. Peran dan Pemilihan Tema dalam Pembelajaran Tematik..................6
D. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran
tematik.............7
E. Keunggulan dan Keuntungan
Pembelajaran Tematik...................................................................... ..7
F. Implementasi Pendekatan Tematik dalam
Pembelajaran Pkn SD.........................................................................8
G. Model-model pembelajaran tematik....................................................8.
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan.......................................................................................... 11
B.
Saran....................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................12
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keputusan dalam suatu
pembelajaran sangat diperlukan pendekatan pembelajaran yang mendukung suatu
keberhasilan dari proses belajar agar dapat tercapai tujuan pembelajaran yang
baik dan mendapat hasil belajar sesuai yang kita inginkan. Kalau dilihat dari
kurikulum 2013, maka pendekatan pembelajaran yang sesuai adalah pendekatan
tematik, karena proses pembelajaran harus memiliki keterkaitan dengan mata
pelajaran lain.
Pendekatan
tematik merupakan pendekatan yang dibutuhkan saat ini. Pembelajaran tematik
merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran suatu proses untuk mengaitkan dan
memadukan materi ajar dalam suatu mata pelajaran atau antar mata pelajaran
dengan semua aspek perkembangan anak, serta kebutuhan dan tuntutan lingkungan
social keluarga.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa yang
dimaksud dengan pendekatan tematik?
2. Apa ciri – ciri
dari pendekatan tematik?
3. Bagaimana peran dan pemilihan tema dalam pembelajaran
tematik?
4. Apa hal – hal yang diperhatikan dalam pembelajaran
tematik?
5. Seperti apa keunggulan dan kelemahan pembelajaran
tematik?
6. Bagaimana
implementasi pendekatan tematik dalam
pembelajaran PKn
SD?
7. Apa model –
model pembelajaran tematik?
C. Maksud dan
Tujuan
1. Mengetahui
maksud pendekatan tematik.
2. Mengetahui ciri
– ciri pendekatan tematik.
3. Mengetahui peran dan pemilihan tema dalam pembelajaran
tematik.
4. Mengetahui hal – hal yang diperhatikan dalam
pembelajaran tematik.
5. Mengetahui keunggulan dan kelemahan pembelajaran
tematik.
6. Mengetahui implementasi pendekatan tematik dalam pembelajaran Pkn SD.
7. Mengetahui model
– model pembelajaran tematik dan
model-model pembelajaran terpadu
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendekatan Pembelajaran Tematik
Pembelajaran
tematik berasal dari kata integrated teaching and learning atau integrated
curriculum approach yang konsepnya telah lama dikemukakan oleh Jhon dewey
sebagai usaha mengintegrasikan perkembangan dan pertumbuhan siswa dan kemampuan
perkembangannya ( Beans, 1993 ; udin sa’ud dkk, 2006 ). Jacob (1993) memandang
pembelajaran tematik sebagai suatu pendekatan kurikulum interdisipliner
(integrated curriculum approach). Pembelajaran tematik merupakan suatu
pendekatan dalam pembelajaran suatu proses untuk mengaitkan dan memadukan
materi ajar dalam suatu mata pelajaran atau antar mata pelajaran dengan semua
aspek perkembangan anak, serta kebutuhan dan tuntutan lingkungan social
keluarga.
Definisi lain
tentang pendekatan tematik adalah pendekatan holistic, yang mengkombinasikan
aspek epistemology, social, psikologi, dan pendekatan pedagogic untuk mendidik
anak, yaitu menghubungkan antara otak dan raga, antara pribadi dan pribadi,
antara individu dan komunitas, dan antara domain-domain pengetahuan ( Udin Sa’ud
dkk, 2006 ) Wolfinger ( 1994:133 ) mengemukakan dua istilah yang secara
teoritis memiliki hubungan yang sangat erat, yaitu integrated curriculum
(kurikulum tematik) dan intregated learning (pembelajaran tematik). Kurikulum
tematik adalah kurikulum yang menggabungkan sejumlah disiplin ilmu melalui
pemaduan isi, ketrampilan, dan sikap. Perbedaan yang mendasar dari konsepsi
kurikulum tematik dan pembelajaran tematik terletak pada perencanaan dan
pelaksanaannya. Idealnya, pembelajaran tematikseharusnya bertolak pada
kurikulum tematik, tetapi kenyataan menunjukan bahwa banyak kurikulum
yangmemisahkan mata pelajaran yang satu dengan lainnya (separated subject
curriculum) menuntut pembelajran yang sifatnya tamatik (integrated learning).
Pembelajaran
tematik merupakan suatu pendekatan yang berorientasi pada praktik pembelajaran
yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Pembelajaran ini berangakat
dari teori pembelajaran yang menolak proses latihan/ hafalan (drill) sebagai
dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. Teori belajarini
dimotori oleh para tokoh psikologi Gestalt, (termasuk teori Piaget) yang
menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah bermakna dan menekankan juga
pentingnya program pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan perkembangan
anak.
B. Ciri-ciri Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik memiliki
ciri-ciri atau karakteristik sebagai berikut
1) berpusat pada siswa,
2) Memberikan pengalaman langsung
kepada siswa,
3) Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas,
4) Menyajikan konsep dari
berbagai mata pelajaran dalam suatu
proses pembelajaran,
5) Bersifat fleksibel,
6) Hasil pembelajaran dapat
berkembang sesuai dengan minat, dan
kebutuhan siswa. Agar diperoleh gambaran yang lebih jelas
tentang karakteristik tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Berpusat pada siswa
Proses pembelajaran yang dilakukan harus menempatkan siswa sebagai pusat
aktivitas dan harus mampu memperkaya pengalaman belajar. Pengalaman belajar
tersebut dituangkan dalam kegiatan belajar yang menggali dan mengembangkan
fenomena alam di sekitar siswa.
2. Memberikan pengalaman langsung kepada siswa
Agar pembelajaran lebih bermakna maka siswa perlu belajar secara
langsung dan mengalami sendiri. Atas dasar ini maka guru perlu menciptakan
kondisi yang kondusif dan memfasilitasi tumbuhnya pengalaman yang bermakna.
3. Pemisahan mata
pelajaran tidak begitu jelas
Mengingat tema dikaji dari berbagai
mata pelajaran dan saling keterkaitan maka
batas mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas.
4. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam
suatu proses pembelajaran.
5. Bersifat fleksibel
Pelaksanaan pembelajaran tematik tidak
terjadwal secara ketat antar
mata pelajaran.
6. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan
minat,
dan kebutuhan siswa.
Sehubungan
dengan hal tersebut diungkapkan pula karakteristik pembelajaran tematik sebagai
berikut:
1) pembelajaran berpusat pada
anak,
2) menekankan pembentukan
pemahaman dan kebermaknaan,
3) belajar melalui pengalaman
langsung,
4) lebih memperhatikan proses
daripada hasil semata,
5) sarat dengan muatan
keterkaitan.
C. Peran dan Pemilihan Tema dalam Pembelajaran Tematik
Tema dalam pembelajaran tematik memiliki peran antara
lain:
1.
Siswa
lebih mudah memusatkan perhatian pada satu tema
atau topik tertentu.
2.
Siswa
dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan
berbagai kompetensi mata
pelajaran dalam tema yang sama.
3.
Pemahaman
terhadap materi pelajaran lebih mendalam
dan
berkesan
4.
Kompetensi
berbahasa bisa dikembangkan lebih baik dengan
mengaitkan mata pelajaran lain
dan pengalaman pribadi siswa.
5.
Siswa
lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena
materi disajikan dalam konteks
tema yang jelas.
6.
Siswa
lebih bergairah belajar karena mereka bisa
berkomunikasi dalam situasi yang
nyata.
7.
Guru
dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang
disajikan secara terpadu dapat
dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam 2 atau 3 kali.
Pemilihan tema dalam pembelajaran tematik dapat
berasal dari guru dan siswa. Pada umumnya guru memilih tema dasar dan siswa
menentukan unit temanya. Tema juga dapat
dipilih berdasarkan pertimbangan konsensus antar siswa.
D. Hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam pembelajaran tematik
Ada beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan dalam pembelajaran tematik, yaitu:
1.
Pembelajaran
tematik dimaksudkan agar pelaksanaan
kegiatan pembelajaran lebih
bermakna dan utuh.
2.
Dalam
pelaksanaan pembelajaran tematik perlu
mempertimbangkan alokasi waktu
untuk setiap topik, banyak sedikitnya bahan yang tersedia di lingkungan.
3. Pilihlah tema yang terdekat dengan siswa.
4. Lebih mengutamakan kompetensi dasar yang akan dicapai
dari pada tema.
E. Keunggulan
dan kekurangan Pembelajaran Tematik
Pelaksanaan pembelajaran tematik memiliki beberapa keuntungan dan juga
kelemahan yang diperolehnya. Keuntungan yang dimaksud yaitu:
1.
Menyenangkan
karena bertolak dari minat dan kebutuhan
siswa
2.
Pengalaman
dan kegiatan belajar relevan dengan tingkat
perkembangan dan kebutuhan siswa.
3.
Hasil
belajar akan bertahan lebih lama karena lebih berkesan
dan bermakna.
4.
Menumbuhkan
keterampilan sosial, seperti bekerja sama, toleransi, komunikasi, dan tanggap
terhadap gagasan orang lain.
Pembelajaran tematik di samping
memiliki beberapa keuntungan sebagaimana dipaparkan di atas, juga terdapat
beberapa kekurangan yang diperolehnya. Kekurangan yang ditimbulkannya yaitu:
1. Guru dituntut memiliki keterampilan yang tinggi
2. Tidak setiap guru mampu mengintegrasikan kurikulum
dengan konsep-konsep yang ada
dalam mata pelajaran secara tepat.
F. Implementasi
Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar dalam
pembelajaran pkn sd
Dalam pelaksanaan pembelajaran PKn
melalui pendekaatan tematik antara lain sebagai
berikut ;
1). Rancangan pembelajaran, dalam tahap ini guru
PKn menyiapkan media pembelajaran
tematik yang berupa gambar-gambar
yang berhubungan dengan tema yang akan diajarkan kepada siswa. Dengan demikian,
guru hanya tinggal menentukan tema penghubung antar mata pelajaran berdasar
kesamaan indikator pencapaian dari masing-masing kompetensi dasar. Estela itu
guru membuat RPP pembelajaran tematik,
2). Pelaksanaan pembelajaran,guru harus lebih kreatif
dalam
mengelola pembelajaran. Hal ini dikarenakan pengalaman
guru sangat penting dalam pengelolahan pembelajaran. Selain itu media yang
dipakai juga harus bervariasi sehingga dapat mengelola proses pembelajaran
dengan baik.
G. Model-Model
Pembelajaran Tematik
Cara pengemasan
pengalaman belajar yang dirancang guru sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan
belajar bagi siswa. Pengalaman belajar yang menunjukan keterkaitan unsur –
unsur konseptual menjadikan pembelajaran lebih efektif. Perolehan keutuhan
belajar, pengetahuan, dan kebulatan
pandangan tentang kehidupan nyata hanya dapat direfleksikan melalui pembelajaran
tematik (terpadu) (William dalam Udin Sa’ud, 2006). Ditinjau dari cara
memadukan konsep, keterampilan, topik dan unit tematisnya, Forgaty(1991)
mengemukakan bahwa ada sepuluh cara atau model dalam merencanakan pembelajaran
tematik :
1.
Model
penggalan ( fragmented ) memisah-misahkan disiplin
ilmu atas mata pelajaran-mata
pelajaran, seperti matematika, bahasa Indonesia, IPA, dan sebagainya.
2.
Model
keterhubungan (Connected) dilandasi oleh anggapan
bahwa butir-butir pembelaaajaran
dapat dipayungkan pada induk mata pelajaran tertentu.
3.
Model
sarang (Nested) merupakan pemaduan bentuk
penguasaan konsep ketrampilan
melalui sebuah kegiatan pembelajaran.
4.
Model
urutan / rangkaian (Sequenced) merupakan model
pemaduan topic-topik antar mata
pelajaran yang berbeda secara pararel.
5.
Model
bagian (Shared) merupakan pemaduan pembelajaran
akibat adanya”overlapping”konsep
atau ide pada dua mata pelajaran atau lebih.
6.
Model
jarring laba-laba (Webbed) model ini bertolak dari
pendekatan tematis sebagai pemadu
bahan dan kegiatan pembelajaran.
7.
Model
galur (Thereaded) merupakan model pemaduan bentuk
Keterampilan.
8.
Model
ketematikan (Integrated) merupakan pemaduan
sejumlah topic dari mata
pelajaran yang berbeda, tetapi esensinyasama dalam sebuah topic tertentu.
9.
Model
celupan (Immerrsed) model ini dirancang untuk
membantu siswa dalam menyaring
dan memadukan berbagai pengalaman dan pengetahuan dihubungkan dengan
pemakaiannya.
10.
Model
jaringan (Networked) merupakan model pemaduan
pembelajaran yang mengandalkan
kemungkinan, pengubahan konsepsi, bentuk pemecahan masalah, maupun tuntutan
bentuk ketrampilan baru setelah siswa mengadakanstudy lapangandalam situasi,
kondisi maupun konteks yang berbeda-beda.
F. Model-model Pembelajaran Tematik
1. The Nested Model (Model Tersarang)
Model Sarang
(Nested) adalah model pembelajaran terpadu yang target utamanya adalah
materi pelajaran yang dikaitkan dengan keterampilan berfikir dan keterampilan
mengorganisasi. Artinya memadukan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik
serta memadukan keterampilan proses, sikap dan komunikasi. Model ini masih
memfokuskan keterpaduan beberapa aspek pada kemudian dilengkapi dengan
aspek keterampilan lain. model ini dapat digunakan bila guru mempunyai tujuan
selain menanamkan konsep suatu materi tetapi juga aspek keterampilan lainnya
menjadi suatu kesatuan. Dengan menggabungkan atau merangkaikan
kemampuan-kemampuan tertentu pada ketiga cakupan tersebut akan lebih mudah
mengintegrasikan konsep-konsep dan sikap melalui aktivitas yang telah
terstruktur.
2.
The
Fragmented Model ( Model Fragmen)
Model Penggalan (Fragmented)
adalah model pembelajaran konvensional (umumnya) yang terpisah secara mata
pelajaran. Hal ini dipelajari siswa tanpa menghubungkan kebermaknaan dan
keterkaitan antara satu pelajaran dengan pelajaran lainnya. Setiap mata
pelajaran diajarkan oleh guru yang berbeda dan mungkin pula ruang yang berbeda.
Setiap mata pelajaran memiliki ranahnya tersendiri dan tidak ada usaha untuk
mempersatukannya. Setiap mata pelajaran berlangsung terpisah dengan
pengorganisasian dan cara mengajar yang berbeda dari setiap guru.
3.
The
Sequenced Model ( Model Terurut)
Model Pengurutan
(Sequenced) adalah model pembelajaran yang topic atau unit yang disusun
kembali dan diurutkan sehingga bertepatan pembahasannya satu dengan yang
lainnya. Misalnya dua mata pelajaran yang berhubungan diurutkan sehingga materi
pelajaran dari keduanya dapat diajarkan secara paralel. Dengan mengurutkan
urutan topic-topik yang diajarkan, tiap kegiatan akan dapat saling mengutamakan
karena tiap subjek saling mendukung.
4.
The
Shared Model ( Model Terbagi)
Model Irisan (Shared)
adalah model pembelajaran terpadu yang merupakan gabungan atau keterpaduan
antara dua mata pelajaran yang saling melengkapi dan di dalam perencanaan atau
pengajarannya menciptakan satu focus pada konsep, keterampilan serta sikap.
Penggabungan antara konsep pelajaran, keterampilan dan sikap yang saling
berhubungan satu dengan yang lainnya dipayungi dalam satu tema. Model ini
berbeda dengan model sarang, dimana tema memayungi dua mata pelajaran, aspek
konsep, keterampilan dan sikap menjadi kesatuan yang utuh. Sedangkan pada model
sarang, sebuah tema hanya memayungi satu pelajaran saja.
5.
The Threaded Model (Model Pasang Benang)
Model Bergalur (Threaded)
adalah model pembelajaran yang memfokuskan pada metakurikulum yang menggantikan
atau yang berpotongan dengan inti materi subjek. Misalnya untuk melatih
keterampilan berfikir (problem solving) dari beberapa mata pelajaran
dicari materi yang merupakan bagian dari problem solving. Seperti
komponen memprediksi, meramalkan kejadian yang sedang berlangsung,
mengantisipasi sebuag bacaan, hipotesis laboratorium dan sebagainya.
Keterampilan-keterampilan ini merupakan dasar yang saling berkaitan.
Keterampilan yang digunakan dalam model ini disesuaikan pula dengan
perkembangan usia siswa sehingga tidak tumpang tindih.
6.
The
Immersed Model (Model Terbenam)
Model Terbenam (Immersed)
adalah model pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran dalam satu
proyek. Misalnya seorang mahasiswa yang memperdalam ilmu kedokteran maka selain
Biologi, Kimia, Komputer, juga harus mempelajari fisika dan setiap mata
pelajaran tersebut ada kesatuannya. Model ini dapat pula diterapkan pada siswa
SD, SMP, maupun SMU dalam bentuk proyek di akhir semester.
7.
The
Networked Model (Model Jaringan)
Model Jaringan
Kerja (Networking) adalah model pembelajaran berupa kerjasama antara
siswa dengan seorang ahli dalam mencari data, keterangan, atau lainnya
sehubungan dengan mata pelajaran yang disukainya atau yang diminatinya sehingga
siswa secara tidak langsung mencari tahu dari berbagai sumber. Sumber dapat
berupa buku bacaan, internet, saluran radio, TV, atau teman, kakak, orangtua
atau guru yang dianggap ahli olehnya. Siswa memperluas wawasan belajarnya
sendiri artinya siswa termotivasi belajar karena rasa ingin tahunya yang besar
dalam dirinya.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Model pembelajaran tematik merupakan pendekatan pembelajaran yang menunjukan kaitan
unsure-unsur konseptual baik didalam maupun antar mata pelajaran, untuk memberi
peluang bagi terjadinya pembelajaran yang efektif dan untuk memberikan
pengalaman yang bermakna bagi anak.
Pembelajaran
tematik sebagai pendekatan baru merupakan seperangkat wawasan dan aktifitas
berpikir dalam merancang butur-butir pembelajaran yang ditujukan untuk
menguntai tema, topic maupun pemahaman dan ketrampilan yang diperoleh siswa
sebagai pembelajaran secara utuh dan padu. Atau dengan pengertian lain
pembelajaran tematik adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan,
merakit atau menghubungkan sejumlah konsep dari berbagai mata pelajaran yang
beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian untuk mengembangkan
pengetahuan dan ketrampilan siswa secara stimulan.
B.
Saran
Untuk
meningkatkan mutu dan proses pembelajaran sesuai yang di canangkan pemerintah,
maka diharapkan kepada semua pihak yang terkait dalam lembaga pendidikan, agar
dapat menerapkan pendekatan tematik di sekolah yang di ajarnya. Agar pendekatan
tematik terlaksana sesuai dengan yang diharapkan, maka diminta kepada guru
untuk mempelajari dengan baik mengenai pendekatan tematik secara mendalam.
DAFTAR PUSTAKA
Sutirjo dan Sri Istuti Mamik, Tematik:
Pembelajaran Efektif dalam Kurikulum 2004, Bayumedia Publishing, Malang, 2005
Tidak ada komentar:
Posting Komentar